Terancam Tenggelam karena Kenaikan Permukaan Laut, Negara Tuvalu Pindah ke Metaverse
Beranda /
Blog /
Terancam Tenggelam karena Kenaikan Permukaan Laut, Negara Tuvalu Pindah ke Metaverse
9 December 2022

Terancam Tenggelam karena Kenaikan Permukaan Laut, Negara Tuvalu Pindah ke Metaverse

Tuvalu merupakan suatu negara kepualauan yang terletak di antara Hawaii dan Australia di Samudra Pasifik. Negara ini merupakan negara terkecil keempat di dunia dengan luas daratan hanya sebesar 26 kilometer persegi.

Tuvalu memiliki 114 pulau dengan titik tertinggi daratan negara ini hanya setinggi 5 m di atas permukaan laut. Ketinggian tanah yang sangat dekat dengan permukaan laut membuat daratan sangat rentan untuk tenggelam.

Bahkan, pemerintah Tuvalu menyebutkan terdapat kemungkinan risiko naiknya permukaan laut yang dapat menenggelamkan negara tersebut. Pemerintah Tuvalu tengah berupaya mencari solusi agar wilayahnya tetap utuh. Solusi yang didatangkan dari pemerintah cukup unik, yaitu memindahkan serta membangun negara Tuvalu versi virtual di metaverse.

Mengapa Tuvalu Ingin Membangun Negara Metaverse?

 

negara metaverse
Sumber: Reuters

Menteri Kehakiman, Komunikasi, dan Urusan Luar Negeri Tuvalu, Simon Kofe mengumumkan rencana tesebut secara online di KTT Iklim COP27. Dia mengatakan rencana tersebut merupakan “skenario terburuk” apabila negara Tuvalu tenggelam. Negara metaverse Tuvalu nantinya akan  mereplikasi pulau-pulaunya yang indah dan melestarikan budayanya.

Dilansir dari science alert, terdapat dua alasan mengapa Tuvalu ingin membangun negara metaverse. Negara kecil ini menghadapi ancaman eksistensial karena kemungkinan tenggelam oleh naiknya permukaan laut dan ingin mempertahankan kebangsaannya melalui teknologi.

Alasan lainnya adalah Tuvalu berusaha menghindari dampak terburuk dari perubahan iklim dan ingin mempertahankan dirinya sebagai negara terestrial. Selain kedua alasan tersebut, membangun metaverse juga membuat Tuvalu mendapatkan sorotan di dunia.

Apa itu Negara Metaverse?

Metaverse mewakili masa depan yang berkembang di mana augmented dan virtual reality menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ada banyak visi tentang seperti apa metaverse itu, dengan yang paling terkenal datang dari CEO Meta (sebelumnya Facebook) Mark Zuckerberg.

Kesamaan dari visi-vsi tersebut adalah gagasan bahwa metaverse merupakan dunia virtual 3D yang dapat dioperasikan dan bersifat imersif. Simon menyiratkan tiga aspek kebangsaan Tuvalu yang dapat diciptakan kembali menjadi negara metaverse yaitu:

  • Wilayah – Membuat keindahan alam Tuvalu di dunia virtual yang interaktif beserta bangunan atau tempat bersejarah.
  • Budaya – Melestarikan bahasa, norma, dan adat istiadat rakyat Tuvalu pada metaverse. Dengan begitu, mereka dapat berinteraksi satu sama lain layaknya kehidupan sehari-hari.
  • Kedaulatan –  Jika tanah terestrial di mana Tuvalu memiliki kedaulatan tenggelam, maka mereka dapat memiliki kedaulatan atas tanah virtual di metaverse.

Apakah Mungkin untuk Dilakukan?

Secara kemajuan teknologi, metaverse sudah bisa membuat pemandangan ataupun bangunan di dunia virtual sehingga mungkin untuk dilakukan. Pemerintah Tuvalu dapat membuat suatu dunia virtual yang indah, imersif, dan kaya akan wilayah Tuvalu.

Di sisi lain, komunitas online dan dunia 3D seperti Second Life menunjukkan bahwa sangat mungkin untuk memiliki dunia virtual dengan penuh ruang interaktif. Second Life menunjukan kita bahwa membangun dunia virtual namun tetap mempertahankan budaya dan norma bisa dilakukan.

Dengan begitu, ide menggabungkan kemampuan metaverse dengan fitur tata kelola untuk membuat “kembaran digital” Tuvalu dapat dilakukan. Memang sebelumnya, terdapat berbagai percobaan dari negara lain untuk mewujudkan konsep negara metaverse ini. Contohnya adalah negara-negara yang mendirikan kedutaan virtual di platform Second Life.

Namun ada tantangan teknologi dan sosial tersendiri yang harus dihadapi bangsa Tuvalu dalam bertransformasi menjadi negara metaverse. Tuvalu memang hanya memiliki sekitar 12.000 warga yang sedikit jika dibandingkan negara lain. Tetapi, memiliki orang yang berinteraksi sebanyak ini secara real time di dunia virtual merupakan tantangan teknis. 

Jika nantinya terwujud, Tuvalu bisa menghadapi berbagai permasalahan terutama apabila belum siap secara sumber daya. Ada masalah bandwidth, daya komputasi, hingga kemungkinan konsep yang belum bisa diadopsi dan diterima secara massal oleh rakyat Tuvalu.

Negara Metaverse Saat Ini

Memang hingga saat ini belum ada yang menunjukkan bahwa negara dapat berhasil ditransformasikan menjadi suatu dunia virtual. Bahkan jika terwujud, Benjamin H. Bratton penulis buku “The Stack | On Software and Sovereignty” berpendapat bahwa negara dalam bentuk software akan mengakibatkan nation-states redundant.

Simon sangat menyadari bahwa metaverse memang bukanlah jawaban utama atas masalah Tuvalu. Dia secara eksplisit menyatakan dunia perlu fokus pada pengurangan dampak perubahan iklim melalui inisiatif seperti perjanjian non-proliferasi bahan bakar fosil.

Metaverse pasti dapat membantu menjaga warisan dan budaya tetap hidup sebagai museum virtual dan komunitas digital. Namun bagaimanapun itu, metaverse tidak bisa berjalan tanpa semua lahan, infrastruktur, dan energi yang membuat internet tetap berfungsi.

Baca juga: Semua yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Virtual Land di Metaverse


Apakah kamu tertarik dengan informasi seputar metaverse seperti berita di atas ini? Ayo kunjungi metanesia.id untuk mendapatkan berita terbaru mengenai metaverse dan teknologi!