Virtual Reality dan Efek Gejala Depersonalisasi Akibat VR pada Manusia
Beranda /
Blog /
Virtual Reality dan Efek Gejala Depersonalisasi Akibat VR pada Manusia
15 December 2022

Virtual Reality dan Efek Gejala Depersonalisasi Akibat VR pada Manusia

Virtual reality (VR) merupakan salah satu teknologi baru yang mulai digunakan secara masif dalam kehidupan sehari-hari. Di berbagai industri, teknologi ini mulai digunakan untuk membantu aktivitas seperti pelatihan virtual, virtual expo, dan lain sebagainya. Meskipun begitu, kini muncul salah satu gangguan kesehatan yakni gejala depersonalisasi akibat VR.

Penggunaan virtual reality di kehidupan sehari-hari

Untuk kamu yang belum tahu, virtual reality merupakan sebuah teknologi yang membuat penggunanya masuk ke dalam dunia virtual baru. Kamu membutuhkan perangkat VR dan juga controllers untuk bisa merasakan teknologi imersif ini.

Virtual reality juga merupakan salah satu teknologi dasar yang digunakan untuk pembuatan metaverse. Metaverse sendiri merupakan platform teknologi baru yang dibuat dengan bantuan virtual reality, augmented reality dan mixed reality.

motion sickness akibat virtual reality

Tidak dapat dipungkiri bahwa virtual reality memungkinkan penggunanya untuk masuk ke dalam dunia virtual baru, mirip dengan konsep yang dimiliki metaverse. Mengikuti aplikasi yang digunakan, pengguna dapat bermain ataupun berinteraksi di dalam dunia baru tersebut tanpa batasan ruang maupun waktu. VR sendiri umumnya banyak digunakan pengguna untuk memainkan berbagai game menarik yang interaktif.

Namun, penelitian mengungkapkan bahwa banyak pengguna VR yang mulai ketagihan dan tidak dapat terlepas dari teknologi tersebut. Lebih parahnya, pengguna menjadi memiliki gejala depersonalisasi dan derealisasi.

Pengertian depersonalisasi dan derealisasi

Dikutip dari Kompas.com, gangguan depersonalisasi dan derealisasi (DPDR) merupakan kondisi kesehatan mental yang menyebabkan seseorang mengalami perasaan berada di luar tubuh secara terus-menerus atau berulang. Gangguan ini membuat penderita tidak dapat membedakan dunia nyata serta virtual, dan membuatnya merasakan lingkungan sekitar yang riil tidak nyata.

Umumnya, penderita yang mengalami gejala depersonalisasi dan derealisi akan memiliki beberapa gejala berbeda.

gejala derealisasi akibat vr

Gejala gangguan depersonalisasi

  • Pengguna seperti merasa berada di luar tubuh dan memandang diri sendiri dari atas
  • Merasakan mati rasa di pikiran dan tubuh dan seluruh indera dimatikan
  • Merasa tidak dapat mengendalikan perbuatan ataupun perkataan yang diucapkan
  • Kesulitan mengaitkan emosi yang dirasakan terhadap ingatan yang dimiliki
  • Memiliki perasaan terlepas dari diri sendiri, sehingga tidak memiliki jati diri

Gejala gangguan derealisasi

  • Mengalami kesulitan mengenali lingkungan ataupun menemukan lingkungan yang sudah sering dikunjungi
  • Terasa seperti di dalam mimpi, seolah-olah ada kaca yang memisahkan dunia nyata dengan diri sendiri
  • Memiliki perasaan bahwa lingkungan sekitar tidak nyata (terlihat datar, buram, terlalu jauh dan dekat, terlalu besar dan kecil)
  • Merasakan pengalaman waktu yang terdistorsi; masa lalu terasa sangat baru sedangkan pengalaman baru yang dirasakan terasa sudah terjadi lama
gejala depersonalisasi akibat vr

Hubungan virtual reality dengan gejala depersonalisasi dan derealisasi

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, banyak pengguna yang menggunakan VR sebagai teknologi baru untuk bermain game. VR sendiri dipilih karena kemampuan yang dimiliki, untuk membuat pengguna seperti masuk ke dalam dunia game yang dimainkan.

Penelitian yang dilakukan University of Bonn dari Jerman ini dimulai dengan mengumpulkan 80 kandidat yang diminta untuk memainkan game The Elder Scrolls V: Skyrim. 80 kandidat ini kemudian dibagi menjadi dua jenis, 40 orang pertama diminta untuk bermain menggunakan komputer sedangkan 40 orang lainnya menggunakan VR headset.

80 kandidat kemudian diminta untuk memainkan game tersebut dalam beberapa jam dan mengisi 4 macam tes yang diisi pada 4 periode waktu berbeda, yakni sebelum memainkan game, selesai memainkan game, 1 hari setelah memainkan game dan 1 minggu setelah memainkan game.

Hasil penelitian dari University of Bonn mengatakan bahwa seluruh 80 kandidat merasakan gangguan gejala DPDR sesuai perkiraan. Namun, 40 kandidat yang bermain menggunakan perangkat VR merasakan gangguan yang lebih besar dibandingkan kandidat yang bermain menggunakan PC.

cybersickness akibat virtual reality

Virtual reality memberikan efek gangguan DPDR yang langsung dirasakan pengguna

Dari penelitian yang dilakukan, dapat diambil beberapa kesimpulan terkait hubungan VR dengan gejala depersonalisasi dan derealisasi yang dirasakan pengguna. Salah satunya adalah efek gangguan DPDR yang langsung dirasakan pengguna, setelah memainkan game menggunakan VR.

Gejala DPDR sendiri dapat terjadi karena beberapa efek samping yang dirasakan pengguna setelah menggunakan perangkat VR, beberapa diantaranya seperti cybersickness dan mata lelah. Namun, peneliti dari University of Bonn juga mengungkapkan bahwa gejala DPDR yang dirasakan perlahan berkurang dalam kurun waktu sekitar 1 hari setelah memainkan game.

Gangguan DPDR yang dirasakan pun tidak terlalu parah hingga dapat menyebabkan gangguan mental secara permanen bagi pengguna.

Gangguan DPDR akibat VR tidak mempengaruhi kemampuan emosional dan berpikir pengguna

Kesimpulan lain yang diambil adalah VR tidak mempengaruhi pengguna dengan gangguan DPDR, yang dapat mengubah kemampuan emosional dan juga berpikir pengguna. Adapun gangguan DPDR yang dirasakan kandidat setelah menggunakan perangkat VR hanyalah sementara dan akan menghilang seiring berjalannya waktu.


Meskipun dapat mengakibatkan adiksi, pastikan kamu menggunakan teknologi virtual reality sesuai dengan yang dianjurkan ya. Tidak boleh terlalu lama menggunakan perangkat VR karena dapat menghasilkan efek samping seperti cybersickness dan juga gejala mental DPDR.

Mau tahu informasi teknologi lain seperti satu ini? Yuk, baca informasi lengkapnya di blog metaNesia!